Terkini

Pages

Categories

Search

 


Ustad M. Kurnia : Teroris dan Bom Bunuh Diri Bukan Bagian Dari Agama

Ustad M. Kurnia : Teroris dan Bom Bunuh Diri Bukan Bagian Dari Agama

by
18 May 2018
HEADLINE
No Comment

Beberapa waktu lalu Indonesia dihebohkan dengan sebuah peristiwa yang sangat memilukan. Tragedi yang memakan korban dari berbagai golongan karena sebuah bom telah meledak di beberapa titik lokasi daerah di Surabaya yang merupakan tempat ibadah sebuah agama.

Entah apa maksud dan tujuan dari perilaku ekstrim tersebut, yang jelas atas nama kemanusiaan dan persatuan antar umat beragama maka apapun alasannya tetap tidak bisa untuk membenarkan tindakan tersebut. Yang ada justru kita sangat menyayangkan dan mengutuk dengan tegas terhadap peristiwa itu.

Kalau para pelaku teror berharap dengan perbuatan mereka berhasil menimbulkan kekacauan di bumi NKRI yang damai ini maka itu adalah kesalahan yang sangat besar. Justru dari peristiwa ini telah membuktikan bahwa kepedulian yang terbangun dalam individu bangsa akan semakin erat dan kuat. Maka siapun pelaku teror ini kita Bangsa Indonesia tidak akan pernah takut menghadapinya karena kita punya kekuatan besar yang terdiri dari aparat pemerintah (TNI & Polri) dan masyarakat yang bersatu untuk mewujudkan Kamtibmas di Indonesia yang kita cintai ini.

Sebagai umat Islam kita telah diperintahkan Allah dan Rasul untuk menolong agama Allah sesuai dengan kapasitas kita masing-masing.
Allah Swt. berfirman dalam Surat Muhammad, ayat 7:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ؛ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Artinya: “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan mengokohkan kaki kalian.”
Tentu dalam menolong agama Allah setiap orang akan menjalani keadaan yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakangnya.

Dalam surat al-Haj ayat 78 Allah juga berfirman:
“وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ”
Artinya: “Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad.”

Kita perlu memahami secara luas makna jihad yang banyak ditemukan dalam ayat-ayat al Quran maupun Hadits. Apakah mereka yang berjuang di jalan Allah dengan cara bom bunuh diri yang siapapun berpotensi menjadi korban adalah sebuah tindakan berjihad di jalan Allah? Tentu saja jawabannya tidak. Karena kondisi jihad dalam peperangan zaman Rasulullah dulu berbeda dengan keadaan di daerah yang aman dan damai seperti di Indonesia saat ini. Bahkan Islam mengajarkan kita untuk melindungi makhluk yang ada di muka bumi ini sebagai misi utama Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Sejarah mencatat betapa Allah dengan kasih sayang-Nya sangat memperhatikan nasib seekor kucing yang telah dianiaya (dikurung dan tidak diberi makan) oleh seorang perempuan walaupun dia ahli ibadah maka tetap Allah berikan azab baginya.

Seorang penuntut ilmu, manakala ia keluar dari rumah untuk menuntut ilmu maka dikatakan Rasulullah mereka sedang berjuang di jalan Allah. Seorang kepala keluarga pergi mencari nafkah yang halal untuk anak istri, ini juga perbuatan yang dikategorikan berjuang mengharapkan ridha Allah. Bahkan para aparat kepolisian yang bertugas-pun sejatinya mereka sedang berjihad untuk menjaga keamanan, ketertiban dan keutuhan NKRI. Kalau seandainya saat belajar, mencari nafkah dan bertugas ternyata Allah menghendaki dirinya wafat maka kematian tersebut akan tercatat dalam keadaan husnul khotimah karena berjuang untuk kemashlahatan seperti yang terjadi pada personil Polri saat kerusuhan oleh narapidana terorisme di Mako Brimob beberapa waktu lalu.

Keluasan makna jihad menentukan arah pemikiran kita. Dalam konteks positif jihad dengan makna berjuang membela agama Allah itu bisa dilakukan tidak hanya dengan mengorbankan nyawa saja, tapi kita juga bisa berjihad dengan harta, tenaga, pikiran dan ilmu untuk menegakkan agama Allah di muka bumi ini. Maka terlalu sempit dan cenderung menyimpang apabila ada pemahaman Islam tentang jihad yaitu dengan melakukan bom bunuh diri yang dampaknya sangat besar.

Dalam al-Quran Allah Swt. berfirman:
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Dan janganlah kamu membunuh diri sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” [An-Nisa’/4 : 29]
Perbuatan orang yang meletakkan bom di badannya lalu meledakkan dirinya di kerumunan manusia yang dianggap musuh merupakan sebuah bentuk bunuh diri yang akan mendatangkan laknat Allah di dunia dan akhirat. Apalagi peristiwa tersebut terjadi di sebuah daerah yang aman dan damai, maka tidak ada satu kaidah ilmu apapun yang akan membenarkan perbuatan ini. Bahkan telah disepakati bahwa tidak ada ajaran sebuah agama manapun yang mengajarkan perilaku bom bunuh diri seperti ini sebagai sebuah tindakan yang dibenarkan.

Perlu kita membuka mata dan pemahaman terkait perkembangan para pelaku teror yang sangat meresahkan semua pihak belakangan ini. Pendidikan agama yang tidak tepat atau bersumber dari guru yang pola pikirnya sempit akan menjadi gerbang maraknya aksi radikalisme dan terorisme. Sehingga patutlah kita mendukung upaya-upaya serius pemerintah (seluruh aparat terkait) untuk menuntaskan secara hukum, profesional dan proporsional sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku di Republik Indonesia.

Mengutip perkataan Syaikh Ali Jum’ah (mantan Mufti Mesir) beliau mengungkapkan:
“الإرهاب لا يمكن أن يكون وليد الأديان و إنما هو وليد عقليات فاسدة و قلوب قاسية و نفوس متكبرة.”
“Terorisme tidak mungkin lahir dari agama, ia hanya produk dari akal yang tidak sehat, hati yang keras dan jiwa yang sombong.”

Semoga kita masyarakat Indonesia terus berjuang untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta melawan secara bersama-sama segala bentuk paham radikalisme, terorisme dan ekstrimisme yang sangat merugikan kita semua. Patutlah kita waspada dan mawas diri untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitar, jikalau ada gerakan oknum yang mencurigakan segera sampaikan kepada RT/RW setempat serta laporkan kepada pihak yang berwenang. Insyaa-Allah ini adalah upaya kita untuk berjuang menjaga NKRI.

Pangkalpinang, 17 Mei 2018

Penulis Artikel :
Ust. Muhammad Kurnia,Lc.,M.A.
– Alumni Univ. Al Azhar Mesir
– Dosen IAIN SAS Babel dan STKIP Muhammadiyah



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *